• Tlp : ( 031 ) 99842200, 99842221
  • Email : tkijatim@gmail.com
upt

Berita

Disnakertrans Bantu Mediasi Tiga Kasus PMI dalam Sehari

  • Jumat, 2019-05-17 - 15:09:28 WIB
  • Administrator
UPT

Bekerja di luar negeri memiliki sejumlah risiko seperti ketidakcocokan dengan majikan dan kelebihan beban kerja. Pejabat fungsional dari bagian Perlindungan dan Evaluasi (Perleva), Unit Pelaksana Teknis Pelayanan dan Perlindungan Tenaga Kerja, Suprayitna, S.H., didampingi Kepala Seksi Perleva Drs. Junaedi menyelesaikan tiga kasus yang dialami pekerja migran Indonesia (PMI) di negara penempatan, Kamis (16/5).

Kasus pertama adalah perpindahan majikan oleh PMI bernama Nurul Setyaningsih melalui agensi. Nurul telah bekerja di Hong Kong selama lebih dari setahun. Perpindahan majikan itu menimbulkan masalah karena agensi tempat ia disalurkan bekerja pertama kali menganggap Nurul masih memiliki tanggungan finansial. Sementara, dari pihak Nurul yang diwakili kuasa hukumnya, mengatakan pihaknya telah membayarkan seluruh kewajiban finansial. Hanya saja, Nurul tak menyimpan bukti pembayaran.

Pihak Perleva lantas memanggil kedua pihak untuk dimediasi. "Nurul berangkat dari PT. Sofia Sukses Sejahtera, tapi perusahaan tersebut sudah tutup, dan kami tetap memanggil pihak perusahaan ke sini untuk bertemu kuasa hukum," tutur Suprayitna. Permasalahan ini terjadi mulai bulan April 2019 lalu dan pihak Nurul menuntut pengembalian dokumen-dokumen asli yang disimpan oleh pihak P3MI (perusahaan penempatan pekerja migran Indonesia).

Lewat mediasi itu, pihak Disnakertrans membantu pengembalian dokumen asli milik Nurul. Selain itu, PT. Sofia Sukses Sejahtera menganggap permasalahan itu sudah selesai.

Lain pula dengan kasus Tri Wahyuni, PMI yang berangkat kerja di Singapura melalui PT. Gunawan Sukses Abadi. Tri Wahyuni yang datang ke Perleva diwakili suaminya, mengatakan bahwa istrinya bekerja tak sesuai kontrak. Tri Wahyuni, selain harus bekerja di rumah majikan, juga dipekerjakan di tempat nenek majikan. Akibatnya, Tri Wahyuni ingin kembali ke Indonesia, dan menuntut pengembalian dokumen-dokumen resmi. 

Sebaliknya, dari pihak P3MI ingin menagih biaya proses pemberangkatan sebesar Rp 16,2 juta yang seharusnya dibayarkan melalui potong gaji. Lewat mediasi dengan petugas Perleva, pihak Tri Wahyuni hanya wajib membayar Rp 10 juta. "Melalui musyawarah dan mediasi, Tri Wahyuni mendapatkan keringanan sehingga hanya perlu membayar Rp 10 juta. Dokumen resmi milik Tri Wahyuni juga kami bantu untuk mengembalikan," terang pejabat fungsional itu.

Untuk kasus ketiga, PMI bernama Yuni Fitria yang telah bekerja selama dua bulan di Singapura. Ia tak menyelesaikan kontrak karena merasa tak cocok dengan majikan. PMI Yuni Fitria ini terjaring lewat pendataan yang dilakukan petugas konter Disnakertrans di Terminal Kedatangan Internasional Bandara Juanda, Surabaya. Yuni mengaku dirinya berangkat ke Singapura lewat PT. Alfira Jaya. Direktur PT. Alfira Jaya Parlianto Sihombing mengklarifikasi bahwa perusahannya tengah mengurus kepindahan dari Kupang, NTT ke Ponorogo, Jawa Timur, sehingga tak mungkin memberangkatkan PMI dari Jatim.

Guna menyelesaikan kasus ini, Suprayitna akan berkoordinasi dengan Disnaker Kabupaten Tulungagung dan PT. Alfira Jaya untuk meminta keterangan tambahan dari Yuni.