• Tlp : ( 031 ) 99842200, 99842221
  • Email : tkijatim@gmail.com
upt

Berita

GELIAT UMKM DI DESA PMI TULUNG AGUNG CIPTAKAN KELUARGA TANGGUH

  • Sabtu, 2020-12-26 - 01:06:43 WIB
  • Administrator
UPT

Kita dibuat kagum saat memasuki desa Betak, Kecamatan Kali Dawir, Kabupaten Tulung Agung Jawa Timur. Pasalnya, memasuki desa yang asri ini terlihat deretan rumah-rumah tergolong mewah berjejer  rapi sepanjang jalan. Rumah tembok dengan arsitektur modern telihat di hampir seluruh area pemukiman di desa itu.

Desa  Betak salah satu desa yang menjadi kantong Pekerja Migran Indonesia (PMI), sejak 2017 ditetapkan sebagai Desa Migran Produktif (Desmigratif). Sebagian besar penduduk usia produktif menjadi Pekerja Migran Indonesia (PMI). Bahkan kepala desanya, Catur Subagiyo adalah mantan PMI atau PMI purna. Arus remitansi yang dikirim para pekerja migrant membuat keluarganya makmur dan hal itu tercermin dari rumah -- rumah bagus  yang bejejer sepanjang jalan di desa itu.

Tercatat  9 negara jadi tujuan pekeja asal desa  Betak yaitu Malaysia,Singapura, Hongkong,  Taiwan, Arab Saudi, Korea, Jepang, Amerika Serikat dan Papua New Guinea. Negara-negara ini dikenal sebagai negara yang memberi upah besar untuk ukuran pekerja dengan pendidikan dan skill yang tidak terlalu tinggi. Meski umumnya mereka bekerja di sektor rumah tangga yaitu sebagai peata laksana  rumah tangga, namun upah mereka  tinggi dan juga perlindungan jaminan sosial dan kondisi waktu kerja dan waktu istirahat (WKWI) mengikuti standar Internationl Lebaour Organization (ILO)  menjadi magnet warga desa Betak bekerja di negara-negara itu.

Bekerja di negara-negara itu para pekerja  migran  mendapatkan hak libur di akhir pekan dan meski bekerja di sektor rumah tangga namun jam  kerja di sesuaikan aturan  pekerja fomal di negara itu yaitu 8 jam sehari, 40 jam seminggu dan istirahat satu hari dalam satu pekan. Jika pengguna mempekerjakan pekerja migrant melebihi ketentuan  jam itu, maka mereka mendapatkan upah lembur.

Upah dan jaminan sosial pekerja dipabrik atau  perusahaan berbadan hukum tentu lebih baik lagi. Apalagi kini, warga asal Tulung Agung yang bekerja di luar negeri makin banyak memilih bekerja di sektor formal dan secara bertahap tidak berminat lagi  bekerja sebagai peata laksana rumah tangga.Catur Subagiyo menuturkan,  dari 560  orang yang kini bekerja di luar  negeri sebanyak 475 orang bekerja di sektor formal baik di pabrik atau di perusahaan berbadan hukum. Hanya 85 orang yang bekerja di sektor informal atau bekerja sebagai piata laksana  rumah tangga. Sekitar 75 % bekerja di sektor formal. Migrasi penduduk desa Betak ke luar negeri karena minimnya lowongan kerja di dalam negeri, faktor ekonomi kebutuhan keluarga, iming-iming gaji besar dan kalah bersaingan dengan para sarjana untuk mendapatkan pekerjaan disektor pabrik atau instasi lain.

Untuk seluruh Kabupaten Tulung Agung, data di Disnakertrans menunjukkan, sebanyak 40 persen PMI  bekeja di sektor formal. Kabid Penempaan dan PKK Disnakertrans Tulung Agung, Triningsih CH Rahayu menyebutkan, semakin besar warga Tulung Agung mengisi lowongan kerja sektor  formal di luar negeri. Tingkat pendidikan dan ketrampilan mereka juga  makin baik hingga upah yang diterima para PMI pun makin baik. Pada 2019 sebanyak 6.000 penduduk Tulung Agung bekerja di luar negeri.  Jumlah itu menurun pada 2020 ini karena  pandemic Covid-19. Sehingga para pekerja migrant asal Tulung Agung, termasuk di desa  Betak dapat mengirimkan uangnya secara  rutin ke desanya dan hasilnya dapat dilihat dari rumah-rumah tergolong mewah serta terjaminnya pendidikan anak-anak mereka.

Sejak tahun 1990-an penduduk desa Betak menjadikan bekerja di luar  negeri sebagai pilihan. Semula memang karena melihat kisah sukses teman atau tetangga. Namun kini bekerja di luar negeri menjadi pilihan. Karenanya, arus penduduk pergi  bekerja di luar negeri dan arus  kembali ke tanah air silih berganti. Maka di Tulung Agung bermunculan beberapa  desa  menjadi desa PMI. Jumlah PMI yang bekerja di luar negeri dan penduduk berstatus mantan  TKI atau PMI hampir seimbang. Sebanyak 90 % PMI purna menjadi wirawastawan. Sehingga para PMI purna menjadi kekuatan ekonomi di desa itu. Penduduk pria berjumlah 3720 orang dan wanita 3504 orang.

Namun di balik sukses ekonomi dengan mengirimkan remitansi Rp 2 triliun per tahun, ada kisah sedihnya. Yaitu meningkatkannya jumlah perceraian di antara keluarga PMI.  Puncaknya, terjadi 7 kasus perceraian per bulan. Angka itu tergolong tinggi di daerah yang dikenal sangat menjaga keharmonisan keluarga. Data itu diperoleh lewat penelitian yang dilakukan Triningsih  dalam rangka menyusun desertasinya untuk meraih doktor di salah satu perguruan tinggi.

Tingginya perceraian di kalangan keluarga PMI itu disebabkan bergesernya budaya dan gaya hidup  para PMI. Perceraian dikalangan PMI bukan hal tabu lagi dan peningkatan pendapatan merubah gaya hidup mereka.  Sehingga remitansi  sebesar Rp 2 triliun per tahun itu, terasa tidak sebanding dengan dampak remitansi yang didapat.

Maraknya perceraian di kalangan PMI itu juga melanda Desa Betak. Sebagai Kepala Desa, Catur Subagiyo tidak menampik tingginya kasus perceraian dikalangan PMI. Pada puncaknya, jumlah perceraian mencapai 10 kasus perbulan. Diantara penyababnya adalah  tidak ada kesepahaman lagi antara kedua belah pihak, perselingkuhan, menikah lagi di tempat dia bekerja di luat negeri, meninggalkan kewajiban ekonomi, dan terus menerus berselisih karena tidak ada keharmonisan dan gangguan pihak ketiga.

Dampak perceraian pada keluarga PMI, menurut Catur Subagiyo, sungguh dirasakan  pada anak-anak PMI. Kenakalan remaja, narkoba menjadi dampak luar biasa. Sebabnya, dukungan finasial pada anak-anak itu tetapi tidak ada kontrol dari keluarganya.

Salah satu solusi yang dilakukan pemerintah desa  dengan memberdayakan keluarga PMI mengembangkan usaha mikro,kecil dan menengah. Usaha itu dilakukan berkat gerakan bersama antara aparat desa,  Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan organisasi keagamaan serta Bank Rakyat Indonesia (BRI). Kabid Penempatan dan PKK Disnakertrans, Triningsih  berupaya keras menggenjot fungsi Desa Migrasi Produktif (desmigratif)  dengan menghidupkan  kegiatan ekonomi masyarakat dan mendatangkan tokoh-tokoh agama dari lembaga-lembaga keagamaan seperti organisasi wanita, Nahdatul Ulama , Fatayat NU, kepala desa, tokoh masyarakat serta perbankan.

Di desa Betak, keluarga pekerja migrant baik keluarga yang ditingggalkan suami/istri bekerja di luar negeri serta para mantan PMI atau PMI purna didatangi dan dikumpulkan untuk diberikan wejangan dan yang terpenting diberikan pembekalan dan penamdampingan soal mengelola usaha produktif. Ibu-ibu dipertajam ketrampilannya membuat kue dan kerajinan hingga menjadi usaha produktif. Sementara para bapak -- bapak baik yang ditinggal istri bekerja maupun para PMI purna juga diberikan ketrampilan mengelola usaha pertanian, petenakan hingga industry rumahan. 

Tujuan dari kegiaan ini menjadikan keluarga PMI  menjadi produktif dan terciptanya keluarga tangguh dikalangan PMI.  Uang yang dikirim PMI dari luar negeri diputar dan tidak dibelanjakan untuk hal-hal bersifat konsumtif. Begitupula uang hasil jerih payah selama bekerja di luar negeri oleh para PMI purna disalurkan pada usaha-usaha produktif  hingga uangnya tidak habis begitu saja. Pengelolaan UMKM yang ditekuninya, menjadikan para keluarga PMI dan PMI purna bersatu dalam kelompok-kelompok UMKM. Akibatnya, mereka tidak hidup sendiri-sendiri tetapi menyatu dalam kelompok dengan usaha produktif.

Modal menjadi masalah umum dihadapi para keluarga PMI, terutama pada mereka yang mulai menipis simpanannya akibat tak punya usaha. Maka Kabid Penempatan dan PKK Triningsih melobi pihak perbankan yaitu Bank Rakyat Indonesia (BRI) untuk menopang para entrepreneur baru ini. Gayung bersambut, bank yang telah memiliki jaringan di desa itu mengucurkan dana pinjaman  berupa Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari jumlah Rp 10 juta hingga Rp 50 juta dengan bunga rendah , 6 % per tahun.

Nuryanto MPM, Manajer Pemasaran Mikro, BRI Cabang Tulung Agung ditemui penulis di Rumah Produktif  Desmigratif Betak mengemukakan, pihaknya antusias membina UMKM dari para PMI purna dan keluarga PMI karena prospeknya bagus. Mereka telah memiliki etos kerja dengan pengalaman kerja di luar negeri dan diyakini mampu mengelola keuangan yang dipinjmankan.

Langkah awal dilakukan pihaknya dengan memberikan pengetahuan dan kemampuan mengelola (literasi) dan edukasi keuangan sehingga PMI purna dan keluarga PMI dapat mengelola keuangan serta dapat mencicil dan melunasi pinjamannya. Langkah itu diikuti dengan mengadakan BRI link untuk transkasi  keungan seperti mengirim, menerima simpanan  uang dan mencicil pelunasan kredit. Usaha ini dikelola sendiri dan milik keluarga PMI.

"Jadi, penduduk tidak perlu ke bank di kota tetapi cukup melakkan transaksi di BRI link yang ada di kantor atau Rumah Produktif di Desmigratif Betak",tutur Nuryanto .

Setiap kegiatan yang dilakukan oleh keluarga PMI, BRI tanpil sebagai sponsornya seperti menyediakan tenda bagi penjualan produk-produk kerajinan. Hingga BRI mendirikan Rumah Produktif  sebagai pusat kegiatan ekonomi di Desmigratif Betak. Di tempat itu para PMI purna dan keluarga PMI memajang produk untuk dijual dan dilengkapi BRI Link sebagai tempat mengirim uang.

Di rumah produktif ini juga berkantor Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa). BUMDesa memberikan pinjaman maksimal Rp5.000.000 tanpa anggunan. Menurut Catur Subagiyo, tingkat kepatuhan membayar pelaku UMKM dari keluarga PMI selalu lancar selama ini, meski ada satu-dua kasus ada yang telat. Begitupula kelancan cicilan dan pelunasan pinjaman KUR di BRI.Nuryanto menyebutkan, kredit macet nol  persen, hasilnya desa Betak jadi salah satu sentra usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) di daerah itu. UMKM yang dikembangkan adalah makanan seperti  kue dan jajanan pasar, kerajinan tangan, perikanan, perdagangan, mebel hingga produk fashion, sehingga terbentuk beberapa kelompok UMKM dengan produk unggulannya masing-masing.

Melihat dari UMKM ini maka empat pilar fungsi Desmigratif telah berjalan antara lain berkembangannya UMKM sebagai usaha produktif keluargha PMI, hadirnya koperasi/lembaga keuangan di desa. Serta berjalannya fungsi informasi dan layanan migrasi serta fungsi pengasuhan anak (community parenting). Dengan pengembangan UMKM, maka kehidupan keluarga PMI sejahtera, dan adanya usaha produktif di desa itu diharapkan mencegah orang kerja di luar negeri dengan menekuni usahanya yang menghasilkan pendapatan besar.

Seiring dengan majunya UMKM di desa Betak, jumlah perceraian menurun drastis. Catur Subagiyo menyebutkan, kini kasus perceraian di keluarga PMI di desanya hampir tidak ada lagi. Kalau pun terjadi, hanya 2 kasus. Setelah itu, tidak ada lagi. Keterlibatan keluarga PMI dalam pengembangan UMKM ternyata ikut menciptakan keluarga tangguh di kampung TKI atau di desa migrant produktif.

 

Sumber: www.kompasiana.com